Saturday, June 2, 2012

Cara membuat lulusan ITB betah di tempat kerjanya

Inilah teori Affan Basalamah tentang cara membuat lulusan ITB betah di tempat kerjanya.

  1. supervisor/manajer/atasannya harus lebih pintar daripada dia.
  2. Jika no. 1 tidak terpenuhi, maka ia ingin diperlakukan setara, sebagai partner diskusi, bukan sebagai bawahan yang cuma disuruh-suruh.
  3. Jika no. 1 dan no. 2 tidak terpenuhi, maka gaji yang diberikan harus cukup memadai untuk meredam kekesalannya akibat ketiadaan kedua keadaan di atas.

Jika keadaan 1, 2, dan 3 tidak terpenuhi, maka siap-siap aja bosnya terima resignation letter.

Dari suatu milis di server itb, di hari Kamis 17 Mei 2012.

***

Ada tambahan lagi, yang bukan dari Affan, kalau resign dipersulit, beberapa lulusan ITB menunggu hari gajian lalu mengosongkan rekening tabungan tempat aliran gaji. Kemudian kabur pindah kota dan perusahaan dengan tidak pakai resign. Rekening tabungan bisa dibikin yang baru lagi. Temanku menggunakan cara ini.

Perlu diingat, jika jari telunjuk mengarah pada seorang teman, ada tiga jari lain yang mengarah pada diri sendiri. :-)

Nürnberg, 2 Juni 2012

iscab.saptocondro

Monday, April 9, 2012

Ketua-ketua KMK ITB melewati sejarah hingga Paskah 2012

Orang-orang yang pernah jadi ketua KMK ITB 

 

2011-2012 Anton Prayogo             (TK'09) 

2010-2011 Tommy Messias             (MT'08)

2009-2010 Grady Hendharta           (MS'07)

2008-2009 Nadia Clairine Salin      (Nadia, TI'06)

2007-2008 Fiona Handayani           (Ona, TI'05)

2006-2007 Efan Adisaputra           (Efan/Ipung, TK'04)

2005-2006 Vina Setiana              (Vina/Tomat, TI'03)

2004-2005 Eduardus Ivan Subianto    (Ivan/Pat Kay, TK'02)

2003-2004 Vera Liany Puspitasari    (Vera, KI'01)

2002-2003 Damianus Sigit Nugroho    (Sigit, EL'00)

2001-2002 Andreas Putro Purnomoadi  (Put@w, EL'99)

2000-2001 Budi Setiawan             (Budi, MA'98)

1999-2000 Paulus M. Tamba           (Ulus, EL'97)

1998-1999 Rusman Sudaya             (Rusman, TL'96)

1997-1998 Navita Kristiastuti       (Vita, BI'95)

1996-1997 Agustinus Sigit B.        (Sigit, FI'94)

1995-1996 Yoga Dina S.              (Yoga, MS'93)

1994-1995 Ignatius Tri Handoyo      (Tri, TI'92)

1993-1994 Oscar                     (Oscar, TF'91)

1992-1993 Tio                       (Tio, DS'90)

1991-1992 Heru Danardatu            (Heru, TM'89)

1990-1991 Krismastono               (Krismas, MS'88)

1989-1990 Ronald Supriyadi          (Rony, TI'87)

1988-1989 Dwiyanto Sutarsono        (Antok, TK'86)

1987-1988 Michael Damanik           (Michael, MS'85)

1986-1987 Rudy Rachdiatmaka         (Rudi, SI'84)

1985-1986 Pratolo                   (Pratolo, IF'83)

1984-1985 Agus Darminto             (MS'82)

1983-1984 Setiawan                  (KI'81)

1982-1983 Heru Handoko              (SI'80)

1981-1982 Arif Wibowo               (FI'79)

1980-1981 Hermanto                  (MS'78)

1979 ...

1978 ...

...

1973 ...

 

Tulisan ini diedit dari tulisanku sebelumnya.
http://iscabitb.blogspot.de/2012/04/ketua-ketua-kmk-itb-melewati-sejarah.html

 

Menurut website KM Institut Teknologi Bandung (ITB), Keluarga Mahasiswa Katolik ITB berdiri tahun 1973 (link). Beberapa ketua KMK ITB tidak kuketahui sejarahnya.

Teori lain mengatakan bahwa KMK ITB lahir dari Divisi Kerohanian Dewan Mahasiswa (Dema) ITB setelah tahun 1978 militer menduduki kampus ITB. Setelah tahun 1978, Dema dibubarkan oleh negara yang dipimpin rezim Soeharto.

 

Ditulis di hari Senin Paskah, 9 April 2012

iscab.saptocondro
EL98

Saturday, April 7, 2012

Tempat bersejarah untuk KMK ITB

Tempat bersejarah untuk KMK ITB
================================
(Bahasa halus dari tempat nongkrong) 

 

1. Gereja Mahasiswa (GEMA) Bandung
----------------------------------
Lokasi: Jalan Sultan Agung 4, Bandung
satu kompleks dengan SMP dan SMA St. Aloysius, Bandung.

Tempat ini adalah tempat kumpulnya mahasiswa Katolik se-Bandung-Raya.
Kalau mau ketemu mahasiswa Katolik dari UNPAD, Enhaiiii, UNPAR, ITENAS, Polban, Keperawatan Boromeus, dll bisa di sini.
Sebelum punya Sunken Court E-07, mahasiswa KMK ITB sering berkumpul di sini.
Bahkan sebelum ada KMK ITB, mahasiswa Katolik di ITB sering memakai tempat ini.

Ada kolam yang dapat dipakai untuk 'mencelup' orang di GEMA.
Berbeda dengan Sunken Court E-07, di mana mahasiswa KMK ITB harus menggotong orang yang mau 'dicelup' ke kolam Indonesia Tenggelam, di antara Labtek.
Yang ulang tahun di GEMA tidak perlu digotong jauh-jauh bila dibandingkan dengan yang ulang tahun di Sunken Court. 

 

2. Kapel Rumah Sakit St. Boromeus
---------------------------------
Lokasi: Jalan Surya Kencana no. 2, Bandung
Satu kompleks dengan Rumah Sakit St. Boromeus, Bandung dan menghadap Asrama Sekolah Tinggi Keperawatan St. Boromeus

Tempat ini adalah tempat Misa Jumat Pertama bagi KMK ITB.

 

3. Burger 2
-----------
Lokasi: Jalan Burung Gereja no. 2, Bandung
dekat dengan Gasibu, dan Monumen Pancasila.

Tempat ini dulunya dipakai sebagai tempat tinggal (kos) beberapa sesepuh KMK.
Suka dipakai kumpul2 dan makan2, ketika Sunken Court belum dipakai sebagai tempat MAKAR

 

4. Sunken Court E-07
--------------------
Lokasi: Ganesha 10, Bandung, tapi lebih dekat ke jalan Taman Sari.
Antara PAU dan Perpustakaan pusat ITB. Menjorok di bawah.

Tempat ini dipakai kalau tidak salah sejak 1997.
Tempat ini sering dipakai untuk MAKAR (Makan2 Bakar2, atau Malam Keakraban)
Tempat ini adalah tempat nongkrong mahasiswa untuk mengisi waktu jika menunggu jam kuliah.

Biasanya mahasiswa di depan Sunken Court E-07 ditemukan dalam keadaan sebagai berikut
- gospol (gosip politik)
- gossel (gosip selebriti)
- curhat
- main kartu
- main karambol
- main bola
- nyanyi
- membaca dan mengisi BUKOM
- MAKAR saat malam hari
- oh, ya, tidak lupa juga rapat KMK dan rapat Penyambutan, serta rapat2 lainnya.

Tulisan di atas berdasarkan pengalamanku bersama Keluarga Mahasiswa Katolik ITB dari tahun 1998 hingga 2003. Kadang-kadang tahun 2003-2005, ketika aku berkunjung, kegiatan di Sunken Court kaga jauh berbeda. Beda zaman, beda tempat nongkrong.

 

Ditulis di hari Sabtu Paskah, 7 April 2012

Ignatius S. Condro A.B.
(iscab, EL98) 

Ketua-ketua KMK ITB melewati sejarah hingga April 2012

Orang-orang yang pernah jadi ketua KMK ITB 

 

2011-2012 Anton Prayogo             (TK'09) 

2010-2011 Tommy Messias             (MT'08)

2009-2010 Grady Hendharta           (MS'07)

2008-2009 Nadia Clairine Salin      (Nadia, TI'06)

2007-2008 Fiona Handayani           (Ona, TI'05)

2006-2007 Efan Adisaputra           (Efan/Ipung, TK'04)

2005-2006 Vina Setiana              (Vina/Tomat, TI'03)

2004-2005 Eduardus Ivan Subianto    (Ivan/Pat Kay, TK'02)

2003-2004 Vera Liany Puspitasari    (Vera, KI'01)

2002-2003 Damianus Sigit Nugroho    (Sigit, EL'00)

2001-2002 Andreas Putro Purnomoadi  (Put@w, EL'99)

2000-2001 Budi Setiawan             (Budi, MA'98)

1999-2000 Paulus M. Tamba           (Ulus, EL'97)

1998-1999 Rusman Sudaya             (Rusman, TL'96)

1997-1998 Navita Kristiastuti       (Vita, BI'95)

1996-1997 Agustinus Sigit B.        (Sigit, FI'94)

1995-1996 Yoga Dina S.              (Yoga, MS'93)

1994-1995 Ignatius Tri Handoyo      (Tri, TI'92)

1993-1994 Oscar                     (Oscar, TF'91)

1992-1993 Tio                       (Tio, DS'90)

1991-1992 Heru Danardatu            (Heru, TM'89)

1990-1991 Krismastono               (Krismas, MS'88)

1989-1990 Ronald Supriyadi          (Rony, TI'87)

1988-1989 Dwiyanto Sutarsono        (Antok, TK'86)

1987-1988 Michael Damanik           (Michael, MS'85)

1986-1987 Rudy Rachdiatmaka         (Rudi, SI'84)

1985-1986 Pratolo                   (Pratolo, IF'83)

1984 ...

1983 ...

1982 ...

...

1973 ...

 

Menurut website KM Institut Teknologi Bandung (ITB), Keluarga Mahasiswa Katolik ITB berdiri tahun 1973 (link). Jadi beberapa ketua KMK ITB tidak kuketahui sejarahnya.

 

Ditulis di hari Sabtu Paskah, 7 April 2012

Ignatius S. Condro A.B. (iscab, EL'98)

Sunday, February 27, 2011

Pilihan

Suatu hari di tahun 1998, seorang anak muda berdiri di antrian menuju Gedung Serba Guna suatu perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung. Dalam kepalanya, banyak pikiran yang berkecamuk.

Kenapa harus mengantri? Dasar brengsek, kenapa formulir SPMB harus diserahkan tanggal segini pada jam 10.00. Padahal nanti ada test masuk suatu universitas swasta Katolik di Bandung.
(12 tahun kemudian, formulir online sudah ada, mungkin kaga perlu antrian fisik lagi)

Tapi hal yg paling mengganjal pikiran anak muda tadi, yang baru lulus SMA (oh, ya, saat itu namanya SMU), bukan bentrok jadwal. Tapi suatu hal yang menyangkut masa depannya. Ini yang akan mempengaruhi hidupnya, identitasnya, dan jati dirinya.

Pilihan kedua di formulir tersebut telah terisi kode jurusan, yaitu Fisika. Anak muda ini betul-betul senang dengan Fisika. Pelajaran ini selalu menggetarkan hatinya dalam menjalani kehidupan SMP dan SMA.

Tapi apa yang harus dipilih untuk pilihan pertama?

Selama mengantri, anak muda ini berpikir ingin jadi apa dia nanti. Lentera jiwanya tak menerangi dalam perjalanannya menuju masa depan. Semua psikotest yang dijalani mengindikasikan bahwa dia adalah seorang yang memiliki multi talenta.

Teknik Sipil? Teknik Mesin? Teknik Elektro? Teknik Informatika? Atau teknik lainnya?

Orang bilang kalau masuk kampus tempat aku mengantri ini, sebaiknya pilih jurusan teknik. Nanti mudah dapat pekerjaan yang gajinya tinggi. Bla bla bla.

Dag dig dug.
Gerbang akhir dari suatu antrian mulai terlihat.
Pensil 2B masih di tangan.
Pilihan pertama di formulir masih kosong.

Akhirnya diputuskan untuk mengisi formulir dengan kode Teknik Elektro.
Entah kenapa.
Mungkin karena sewaktu SMP senang dengan elektronika praktis.
Mungkin karena sewaktu SMA, ada senior yg masuk Teknik Elektro bilang kalau himpunannya paling besar ruangannya.
Mungkin karena saat itu banyak orang Teknik Sipil menganggur karena krisis ekonomi 1997.
Mungkin karena dipikirnya Teknik Informatika terlalu banyak pemrograman, suatu hal yang asing bagiku ketika sekolah.
Saat SMP dan SMA, dia bisa pakai BASIC, tapi kaga terlalu suka programming, karena dunia ini terlalu abtrak
Mungkin karena dia dengar cerita horor ospek Teknik Mesin.
Mungkin karena dia senang tantangan. Saat itu jurusan Teknik Elektro memiliki passing grade tertinggi.
Intinya sih dia tak tahu kok bisa sampai memilih Teknik Elektro.
Mungkin Sang Kosmos yang menggerakkan hati, pikiran dan tanganku untuk jurusan ini.

***

Masalah pertama dengan bentrok jadwal beres. Bokap anak muda ini mengontak panitia SPMB atau UMPTN untuk memberi kelonggaran bagi orang-orang yang saat itu harus ikut tes masuk universitas lain. Jadi orang-orang ini boleh masuk GSG jam 8 pagi, tak perlu menunggu jam 10. Ternyata masalah ini tidak bisa diselesaikan sendiri, dia butuh bokapnya. Namun perjuangan anak muda ini dan bokapnya mengetuk hati panitia UMPTN untuk bermurah hati pada orang-orang yang sudah bayar buat ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Puluhan anak muda lain yang kena bentrok jadwal ini terselamatkan. Mereka bisa tenang untuk ikut ujian.

Anak muda ini merasa senang bisa daftar UMPTN dan bisa ikut tes perguruan tinggi swasta hari itu. Beberapa minggu kemudian, hasil tes keluar dan di perguruan tinggi swasta tersebut dia diterima di jurusan Teknik Kimia.

***

Beberapa hari kemudian, anak muda ini berada dalam ruangan UMPTN. Dua puluh orang dalam ruangan mengisi lembar ujian demi masa depan mereka.

Beberapa minggu kemudian, koran menampilkan hasil UMPTN. Saat itu, hasil juga ditampilkan di Internet. Anak muda ini pergi ke rumah temannya buat ngumpul dan nongkrong. Rame-rame melihat hasil ujian masuk. Dilihatnya nomor tidak ada. Kecewa. Bahkan pilihan kedua pun tidak masuk.

Sepulangnya di rumah, bokapnya juga bilang, kalau kaga bisa masuk perguruan tinggi negeri, kaga apa-apa, kan sudah diterima di perguruan tinggi swasta.

Dilihatnya lagi koran tadi, ternyata yang dilihat adalah hasil untuk IPC, sedangkan dia ikut IPA. Diceknya lagi lembaran tersebut. Nomornya ada.

Lalu bokapnya menunjukkan hasil print dari Internet kalau dia diterima. Anak muda ini dikerjain bokapnya sendiri.

OK, berarti dia diterima di Teknik Elektro, kampus cap gajah tapa.
Diterima berarti dia harus mengantri lagi menuju GSG untuk pendaftaran mahasiswa.

***

Setiap pilihan mengandung konsekuensi.
Hukum III Newton tentang gerak berkata bahwa setiap aksi akan memiliki reaksi yang sama besar.
Akibat memilih jurusan secara asal, anak muda ini menerima konsekuensi bahwa hidupnya akan selalu terombang-ambing. Baik dalam studi maupun setelah lulus.

But anyway, dia memilih Teknik Elektro dan dia ingin bertahan untuk memiliki identitas sebagai Electrical Engineer, bukan bankir, bukan koruptor, bukan politisi, bukan pedagang.

Semoga anak muda ini jadi Electrical Engineer dan hidupnya tak jauh-jauh dari Teknik Elektro.

***

Ditulis ketika anak muda ini sudah tidak muda lagi dan sudah lulus dari studi lanjut di negeri seberang, dengan bidang yang lebih spesifik dalam Teknik Elektro. Sekarang anak muda ini mencari kerja di bidang ini. Karena jati dirinya adalah Electrical Engineer. Semoga dia dapat pekerjaan bidang ini.


Friday, December 26, 2008

Mukadimah

Suatu hari Natal 2008,

Seorang alumnus sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung ingin mengenang almamaternya. Almamater, Ibu yang memberi ilmu, bernama Institut Teknologi Bandung.

Institut teknologi berlambang Ganesha ini telah meninggalkan jejak mendalam di hati alumnus ini. Sedikit kenangannya akan ditulis di blogs ini.

Banyak hal yang dipelajari dalam ruang-ruang kelas kampus ini, laboratoriumnya, lorong-lorongnya, dan taman kehidupan di sekitar kampus ini.

Lembaga kemahasiswaannya, telah membentuk alumnus ini sekarang, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.

Kampus ini membuat alumnus ini mencintai dunia pendidikan dan memilih hidup menjadi seorang pengajar alias akademisi, sekaligus kemudian kembali menjadi pelajar di negeri seberang.

ITB,
kampusku...
rumahku...
di sanalah bagian hatiku berada...